menanam harapan dengan jajar legowo

Senin, 31 Agustus 2009

PORANG, UMBI LOKAL YANG MONCER DI JEPANG

Tidak banyak masyarakat – terutama di Jawa- yang mengenal tanaman porang (Amorphophallus onchophyllus). Tetapi kalau iles-iles atau suweg, tentu banyak orang yang sudah mengetahuinya.
Di indonesia, tanaman porang memang dikenal dengan banyak nama, tergantung daerah asalnya. Misalnya acung atau acoan oray (Sunda), kajrong (Nganjuk). Nah, orang Jawa biasa menyebutnya sebagai iles-iles atau suweg.
Porang sering dijumpai tumbuh liar di sejumlah hutan di Jawa, sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Dengan harga jual Rp 10.000,00/kg, beberapa orang yang mengetahuinya tergerak untuk mencari umbi porang dari hutan ke hutan.
Mereka menjualnya ke pedagang pengepul, dengan keuntungan sekitar Rp 500,00/kg. Tetapi asal tahu saja, jika diekspor ke Jepang, Taiwan, Thailand, Australia, dan sejumlah negara Eropa, harga jual umbi porang bisa mencapai Rp 15.000,00.
Pangsa pasar terbesar adalah Jepang. Umbi inilah yang diolah menjadi tepung, kemudian dijadikan penganan khas Jepang, seperti konyaku dan shirataki.
Konyaku adalah sejenis jelly yang kaya akan serat. Sedangkan shirataki adalah mi tipis transparan yang dibuat dari konyaku. Meski menjadi peganan khas Jepang, tetapi bahan baku berupa umbi porang didatangkan dari Indonesia.
Kini, permintaan terhadap umbi porang terus meningkat, tak heran jika banyak muncul eksportir baru. Mereka tidak menetapkan persyaratan terlalu ketat, kecuali harus kering dan bersih dari cendawan ( jamur ).

Banyak Manfaat
Di dalam negeri, umbi porang digunakan sebagai bahan pembuatan mi yang dipasarkan di sejumlah swalayan, atau untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik.
Sedangkan di mancanegara, umbi porang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Misal untuk industri tekstil (membuat kain mengkilap), perekat kertas, cat, kain katun, wool dan bahan imitasi yang memiliki sifat lebih baik dari amilum serta harganya yang lebih murah.
Juga sebagai pengganti agar-agar dan gelatin, sebagai bahan pembuat negative film, isolator dan seluloid karena sifatnya yang mirip selulosa.
Zat glukomanan yang terkandung dalam umbi porang, jika dicampur dengan gliserin atau natrium hidroksida, bisa diolah untuk bahan kedap air. Juga dapat digunakan untuk menjernihkan air dan memurnikan bagian-bagian keloid yang terapung dalam industri bir, gula, minyak dan serat.
Setiap pohon dewasa dapat menghasilkan 2 kg umbi porang. Biasanya, setiap hektar tanaman bisa menghasilkan 12 ton umbi segar atau sekitar 1,5 ton umbi kering. Umbi ini hanya tumbuh subur di musim hujan.
Tingginya permintaan pasar ternyata mampu mengubah cara masyarakat dalam memperoleh umbi porang. Kalau dulu mereka hanya mencarinya di hutan, kini mereka cenderung membudidayakannya.

Syarat Tumbuh
Usaha sudah meluas di Nganjuk, Madiun, Jember, Ngawi dan Wonogiri. Porang adalah tumbuhan herba, menahun, tinggi tanaman 100-150 cm, dan umbi berada di dalam tanah. Umbinya mengandung glukomanan.
Batangnya tegak, lunak, halus dan berwarna hijau atau hitam dengan belang-belang atau totol-totol putih. Batangnya tunggal, tetapi memecah lagi menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bubil berwarna coklat kehitaman yang merupakan alat perkembangbiakan tanaman porang. Memiliki toleransi tinggi terhadap naungan, atau bahkan harus ditanami tanaman pelindung, hanya membutuhkan intensitas cahaya maksimum 40%.
Naungan yang ideal adalah jati, mahoni dan sonkeling, dapat tumbuh optimal pada ketinggian 100-600 m dpl. PH ideal 6-7 pada semua jenis tanah, tapi akan makin baik hasilnya bila di tanah gembur/subur.


Perkembangbiakan
Bisa secara generatif dan vegetatif. Cara generatif, dengan penanaman buah/biji. Tiap 4 tahun, tanaman porang akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah/biji. Satu tongkol buah bisa menghasilkan 250 biji, yang dapat disemaikan dulu.
Juga bisa menggunakan umbi tetas (bubil). Bubil dikumpulkan saat panen, lalu disimpan dan ditanam saat musim hujan. Tiap 1 kg biasanya terdiri dari 100 butir bubil.
Cara vegetatif, dilakukan dengan penanaman umbi. Bisa memakai umbi yang berukuran kecil, yang diperoleh dari pengurangan tanaman yang terlalu rapat. Atau memakai umbi berukuran besar, tetapi dipecah-pecah sebelum ditanam pada media.
Umbi ditanam pada guludan setinggi 25 cm dan lebar 50 cm (untuk lahan datar), untuk lahan miring cukup dilubangi dan langsung ditanami bibit. Panen baru bisa dilaksanakan 3 tahun setelah penanaman generatif, dan satu tahun untuk penanaman secara vegetatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar